Prosesi Sekaten Dan Makna Gunungan Sekaten

Latar belakang sejarah, Tradisi Sekaten terkait erat dengan tradisi sejak zaman Kasultanan Demak untuk menyiarkan agama Islam. Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat dan keraton surakarta kemudian melaksanakan tradisi leluhurnya sebagai tradisi upacara kebudayaan dan keislaman yang bercorak khas kejawen tersebut. Tradisi Sekaten merupakan upacara keagamaan yang diadakan setiap tahun bertepatan dengan hari lahirnya Nabi Muhammad SAW.

Itulah sebabnya Garebeg yang diselenggarakan untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW disebut Garebeg Maulud. Namun di Yogyakarta dan Surakarta, Garebeg Maulud lebih dikenal dengan nama Sekaten. Bagi masyarakat tradisi Sekaten mempunyai makna religius, historis dan kultural. Peringatan tradisi Sekaten sebagai upacara keagamaan yang bertepatan dengan hari lahirnya Nabi Muhammad SAW bertujuan untuk memetik suri teladan kehidupan Rasulullah SAW.

Artikel ini hanya akan membahas tentang Prosesi Sekaten Dan Gunungan Sekaten di Yogyakarta.

Prosesi Sekaten, terdiri dari :

a. Tradisi Sekaten diawali dengan Slametan atau Wilujengan yang bertujuan untuk mencari ketentraman dan ketenangan. Ini juga menandai kegiatan Pasar Malam Perayaan Sekaten dimulai.

Pasar Malam ini berlangsung kurang lebih 40 hari sebelum perayaan Garebeg Maulud tiba. Pada perayaan Sekaten ini masyarakat banyak yang berkunjung dan bertujuan untuk mencari hiburan atau membeli makanan khas yang dijual pada Pasar Malam itu.

b. Satu minggu sebelum puncak acara Sekaten, gamelan dikeluarkan dari Keraton dibawa ke Masjid Agung Yogyakarta untuk kemudian diletakkan di Pagongan Utara dan Pagongan Selatan atau Miyos Gongso oleh Abdi Dalem Kawedanan Hageng Punokawan Kridhomardowo yang bertugas dalam bidang kesenian dan Abdi Dalem Konco Gladhag yang membawa gamelan serta perangkatnya dari Keraton ke Pagongan Utara dan Pagongan Selatan Masjid Agung Yogyakarta.

Selama satu minggu gamelan dibunyikan terus kecuali pada jam-jam tertentu yaitu saat adzan dikumandangkan dan pada hari jum’at. Gamelan dibunyikan oleh Abdi Dalem Kawedanan Hageng Punokawan Kridhomardowo. Gamelan dipakai sebagai media atau alat untuk dakwah Islam karena dengan membunyikan gamelan Jawa dan segala macam bentuk keseniannya, maka masyarakat akan datang.

c. Rangkaian upacara Sekaten yang selanjutnya ialah Upacara Numplak Wajik yang berlokasi di Magangan Kidul. Upacara Numplak Wajik sebagai awal dimulainya pembuatan gunungan wadon.

Upacara Numplak Wajik diawali dengan iringan Gejog Lesung yang dilakukan oleh Abdi Dalem Konco Gladhag. Tujuannya agar dalam pembuatan gunungan wadon tersebut dapat berjalan lancar. Sebelum upacara ini dimulai biasanya diberikan sesaji oleh Abdi Dalem Keparak Para Gusti agar dalam pembuatan gunungan ini tidak mengalami hambatan.

d. Acara selanjutnya dilaksanakan Miyos Dalem di Masjid Agung Yogyakarta. Acara ini dihadiri oleh Sri Sultan, pembesar Keraton, para Bupati, Abdi Dalem Keraton dan masyarakat Yogyakarta. Pada upacara Miyos Dalem, dihadapan Sri Sultan dan pembesar Keraton dibacakan Siratun Nabi (riwayat hidup Nabi Muhammad SAW).

Sebelum Miyos Dalem dilaksanakan, Sri Sultan menyebar udhik-udhik yang telah disiapkan oleh Abdi Dalem Keparak Para Gusti di depan pintu Pagongan Selatan dan Pagongan Utara Masjid Agung Yogya dimana selama 7 hari berturut-turut kedua Gamelan sekaten dibunyikan yaitu Gamelan Kanjeng Kiai Guntur Madu dan Gamelan Kanjeng Kiai Nagawilaga dihadapan masyarakat yang hadir. Miyos Dalem berakhir ditandai dengan pelaksanaan Kondur Gongso atau gamelan dibawa masuk lagi ke Keraton.

e. Sebagai rangkaian upacara terakhir dari Tradisi Sekatenan yaitu puncak acara Garebeg Maulud, yang ditandai dengan dikeluarkannya Hajad Dalem Pareden (gunungan) tepat tanggal 12 bulan.

Dalam Garebeg Maulud ini Sri Sultan mengeluarkan Hajad Dalem berupa 6 buah gunungan, diantaranya adalah 2 buah gunungan lanang (1 buah gunungan untuk berkat ke Pakualaman), 1 buah gunungan wadon, 1 buah gunungan dharat, 1 buah gunungan gepak, dan 1 buah gunungan pawuhan.

Makna Gunungan Sekaten

Dalam upacara Sekaten terdapat gunungan yang merupakan simbol atau lambang yang bermakna positif. Berbagai jenis makanan yang disiapkan dalam gunungan tersebut mengandung nilai-nilai luhur dan harapan yang baik bagi kehidupan ekonomi masyarakat.

Adapun nilai-nilai yang terkandung dalam setiap makanan atau sesaji yang terdapat dalam gunungan dalam Tradisi Sekaten tersebut, sebagai berikut:

a. Gunungan kakung, Gunungan selain bermakna kesuburan juga mempunyai arti sifat baik, sedangkan gunungan putri melambangkan sifat buruk.

Dua sifat ini bila berdiri sendiri akan menimbulkan sifat perusak, sehingga dua sifat ini harus disatukan. Disinilah peran raja untuk menyatukan dua kekuatan itu sehingga akan menjadi satu kekuatan yang besar untuk kejayaan keraton. Dari hal tersebut raja mengeluarkan sepasang gunungan pada waktu perayaan sekaten. Gunungan kakung juga menggambarkan tentang dunia dan isinya yang mencakup berbagai unsur didalamnya, seperti bumi, langit, tumbuh-tumbuhan, api, hewan, dan manusia itu sendiri dengan berbagai jenis dan sifat-sifatnya.

b. Bendera merah putih, ditempatkan pada ujung gunungan, berjumlah lima buah sebagai lambang dari sebuah negara atau kerajaan.

Warna merah bermakna semangat atau kebenaran, sedangkan warna putih berarti suci. Warna merah putih menunjukkan istilah pada kerajaan Majapahit yaitu istilah gula klapa yang melambangkan bahwa orang harus mempunyai sifat dan semangat keberanian serta kesucian.

c. Cakra, merupakan puncak dari pangkal berdirinya gunungan yang mempunyai makna senjata atau pusaka milik dari Prabu Kresna yang mempunyai kekuatan dahsyat dalam menegakkan keadilan.

Selain itu cakra merupakan simbol dari hati yang merupakan petunjuk dan pemimpin dalam kehidupan. Perjalanan cakra adalah berputar yang bermakna bahwa roda kehidupan manusia itu selalu berputar, manusia harus selalu ingat kepada Tuhan dalam keadaan senang maupun susah.

d. Wapen, merupakan simbol yang digunakan sebagai lambang. Adapun wapen dalam gunungan bermakna petunjuk bagi keselamatan dan kekuasaan dari Raja yang bertahta.

e. Kampuh, merupakan kain berwarna merah putih yang menutupi jodhang (tempat makanan) yang bermakna kesusilaan. kampuh dibuat sebagus mungkin yang membuktikan kepribadian, pepatah Jawa mengatakan ajining salira saka busana yang berarti dihormatinya seseorang karena pakaiannya.

f. Entho-entho, merupakan makanan berbentuk bulat telur yang terbuat dari tepung beras ketan yang dikeringkan hingga keras, kemudian digoreng. Hal ini bermakna keteguhan hati dalam menghadapi masalah kehidupan dunia.

g. Telur asin, melambangkan amal. Adapun makna lain bahwa terbagi dua bagian, bagian kuning melambangkan laki-laki, dan bagian putih adalah perempuan. Kemudian keduanya bersatu dan terjadi manusia baru.

h. Bahan perlengkapan dalam gunungan kakung seperti tebu, cabe, daun pisang, terong, wortel, mentimun, kacang panjang dan daging yang kesemuanya merupakan hasil dari bumi yang dinikmati manusia. Dan juga dami (batang padi), jodhang, sujen, peniti, jarum bundel, dan samir jene.

Bahan-bahan hasil bumi tersebut merupakan lambang dari kesuburan bumi.

i. Gunungan putri, Gunungan putri melambangkan putri sejati yang menggambarkan bahwa seorang wanita harus memiliki badan dan pikiran yang dingin, sehingga dia mempunyai penangkal untuk menahan isu-isu yang datang dari luar, baik yang menjelek-jelekkan dirinya maupun keluarganya dan dapat menyimpan rahasia manusia atau keluarganya.

Adapun isi dari gunungan putri merupakan makna dan lambang dari kewajiban wanita untuk menjaga dan mengerjakan urusan belakang atau kebutuhan rumah tangga. Gunungan putri berjalan di belakang gunungan kakung dan gunungan anakan, yang merupakan simbol bahwa istri bertugas sebagai pengasuh utama dari anak dan bertanggungjawab menjaga keselamatan rumah tangga.

j. Eter, terbuat dari seng berbentuk jantung manusia atau bunga pisang (tuntut) yang bermakna sebagai api yang menyala, yaitu semangat hidup yang menyala terus.

Eter juga berwujud jantung yang merupakan pusat kebatinan atau rohani, hal ini ada pertimbangan kewajiban lahir batin atau dengan Allah dan sesama manusia.

k. Bunga sebagai pengharum, mempunyai dua makna yang terkandung di dalamnya, yaitu makna lahiriah dapat mendekatkan atau mendatangkan berkah bagi yang cocok dan menjauhkan bagi yang tidak cocok.

Sedangkan makna batiniah yaitu kemuliaan atau keharuman jati diri manusia yang diperoleh dengan amal yang baik.

l. Jajanan, yang terdiri dari jadah, wajik, dan jenang sebagai isi dari jodhang yang menggambarkan hasil karya wanita dalam dapur atau rumah tangga.

m. Uang logam, bermakna sebagai sarana memperoleh kebutuhan lahiriah manusia dalam hidup di dunia, dan bermakna batiniah sebagai simbol cobaan atau ujian hidup manusia yang dapat menggunakan dan mendatangkan keresahan bagi yang tidak dapat menggunakan.

n. Gunungan anakan, bermakna bahwa anak dari sebuah rumah tangga yang sudah tentu diharapkan oleh orang tuanya, anak dapat menyambung sejarah keluarga atau dapat mikul dhuwur mendhem jero.

Artinya menjunjung harkat dan martabat orang tua dengan cara menjaga nama baik orang tua atau dalam agama Islam dikenal dengan istilah anak sholeh yang berbakti dan mau mendoakan orang tuanya.

o. Ancak cantaka, merupakan sedekah para abdi dalem dan kerabat keraton yang dikeluarkan oleh raja karena mereka ada di dalam lindungan-Nya. Melambangkan kehidupan yang makmur tercukupi kebutuhan jasmani dan rohani.

Terbinanya kehidupan beragama dan tersedianya kebutuhan di dunia yaitu sandang, pangan, dan papan.

p. Sega uduk atau nasi gurih dengan perlengkapan daging ayam (ingkung), kedelai, dan pisang raja.

Maknanya sebagai lambang kehidupan yang enak atau baik, sedang yang dituju adalah untuk para Nabi dan wali.

q. Sega janganan atau nasi sayuran, melambangkan kehidupan tercukupi (duniawi), sedang yang dituju adalah para roh.

r. Sega asahan, bermakna untuk menyucikan lahir dan batin.

s. Buah-buahan atau jajan pasar, bermakna sebagai penolak balak atau menyingkirkan segala sumber bahaya atau bencana yang akan terjadi.

t. Sirih, menurut kepercayaan masyarakat, barang siapa yang memakan sirih tepat pada saat gamelan sekaten berbunyi untuk pertama kalinya akan awet muda. Maka banyak orang yang berjualan sirih pada perayaan sekaten.

u. Canthangbalung, Canthangbalung adalah abdi dalem yang bertugas membuat orang lain menjadi gembira.

Disebut Canthangbalung karena mereka membawa kepyak dari tulang yang diselipkan pada jari-jari dan selalu dibunyikan dengan irama "crek, crek, crek". Canthangbalung dengan gayanya yang lucu dimaksudkan untuk orang yang mengikuti konsep dualis yang berlaku menguji kesungguhan dan keteguhan iman pepatih dalem dalam mengemban perintah.

v. Pecut, adalah salah satu barang yang dijual dalam sekaten.

Oleh masyarakat, pecut yang dibeli saat sekaten dipercaya dapat menghindarkan ternak dari penyakit dan berkembang biak bagi para peternak sapi/kambing.

Benda-benda perlengkapan sekaten tersebut dianggap sebagai perantara untuk mendapatkan berkah kepada masyarakat. Sehingga masyarakat bisa mendapatkan kehidupan ekonomi yang lebih baik serta menuju kemakmuran.


Gunungan itu nantinya akan diperebutkan oleh masyarakat. Ketika gunungan diperebutkan oleh masyarakat. Sebagian masyarakat berusaha untuk mendapatkan bagian dari gunungan itu, seperti hiasan telur ataupun hiasan kue-kue. Mereka percaya bahwa dengan mendapatkan bagian dari gunungan itu, mereka akan mendapatkan berkah.

Biasanya setelah mereka mendapatkan bagian dari gunungan itu, mereka meletakkan bagian dari gunungan itu di sawah, di rumah, tempat usaha mereka, tujuannya agar apa yang mereka usahakan dapat berhasil dan sukses. Selain bagian dari gunungan, yang menjadi sasaran dari masyarakat ialah hiasan bunga melati yang dipakai pada keris Pandega.

Dengan kata lain dengan benda-benda yang berasal dari gunungan sekaten tersebut, masyarakat mengharapkan kehidupan ekonomi dan mereka bisa diperbaiki sehingga bisa menuju kehidupan yang lebih makmur. Masyarakat percaya bahwa dengan mendapatkan sesuatu milik keluarga Keraton, mereka akan mendapatkan berkah dari benda yang dimilikinya.