Sesaji Dan Uborampe Ruwatan

Sesaji Dan Uborampe Ruwatan

Sesaji Ruwatan

- Dua ranting kayu dadap srep lengkap dengan daunnya.
- Dua batang tebu dengan daunnya.
- Sepasang kelapa muda.
- Dua ikat padi.
- Dua tandan buah kelapa.
- Dua tandan buah pisang.
- Alat dapur seperti penggorengan, centong, dll.
- Alat pertanian : cangkul, arit, caping, dll.
- Sepasang merpati, bebek, angsa, dll.
- Disedikan sejumlah ayam, satu sukerto satu ayam.Ayam jago untuk sukerto lelaki dewasa, ayam betina untuk sukerto wanita.
- Ayam jago muda untuk sukerto lelaki remaja, ayam betina muda untuk sukerto putri remaja.
- 7/ tujuh lembar batik dengan motif : bangun tulak, sindur, gading melati, poleng semen, truntum, sulur ringin dan tuwuh watu.
- Kendil baru diisi beras dan sebuah telor, dua sisir pisang raja, suruh ayu yang belum jadi,kembang boreh- tepung beras dicampur kembang, uang dengan nilai Rp.25 atau Rp.250 atau Rp.2500.
- Tikar dan bantal baru, minyak wangi, sisir, bedak, cermin dan kendil.
- Sekul among- nasi dengan sayuran dan telur, biasanya untuk bancakan, syukuran anak kecil.
- Sekul liwet- nasi dengan lauk sambal gepeng.
- Sepasang golong lulut- dua bulatan nasi ketan dengan telur goreng.
- Beberapa buah ketupat, salah satunya diisi ikan lele atau wader goreng.
- Golong orean untuk setiap sukerto ( bulatan nasi dengan ayam panggang), untuk setiap sukerto jumlahnya sesuai dengan wetonnya.
(Misal sukerto yang wetonnya Minggu Legi, golong oreannya 10 biji, yang Sabtu Paing jumlah oreannya 18, begitu seterusnya.)
- Tumpeng robyong, nasi tumpeng yang diatasnya ditaruh cabe merah dicampur sayur gudangan dan telur rebus mengitari tumpeng.
- Sekul gebuli, nasi kebuli dengan lauk ikan.
- Rasulan, nasi dengan lauk daging kambing dan sayuran.
- Jajan pasar, beberapa kue yang biasa dijual dipasar.
- Kala kependem,seperti ketela, kacang, dsb.
- Empat tumpeng nasi, warnanya : merah, putih, hitam dan kuning.
- 7 macam rujak dan 7 macam bubur.
- Jangan menir yang dibuat dari daun kelor, arang-arang kembang- nasi goreng sangan dengan air gula, gethok- potongan daging segar dengan santan dan air gula, edan- potongan kunyit dari papah lompong/batang talas dengan air gula, ulek –degan- irisan berbagai buah dengan cabai dan air gula, irisan kelapa dicampur air kelapa ditambah gula kelapa.
- Berbagai bubur jenang : merah putih, pliringan- garis-garis merah putih dengan sedikit merah ditengah, bulus angrem – dalam bentuk bulus sedang mengeram, palang- diatas bubur merah ada palang putih, sungsum – bubur tepung beras diberi air gula Jawa.
- Tuak dan badek/ legen- minuman segar dari pohon aren.
- Klepat-klepet- daun gadungsari dan dadap srep dibungkus dengan daun kelapa.
- Klepon – serabi merah putih, uler-uler – jadah dan wajik.
- Sepasang kembar mayang yang dipayungi.
- Sebuah pecut baru.
- Sebuah sapu lidi yang diikat dengan gelang perak.

Pada masa kini banyak orang terutama generasi muda yang tidak mengerti esensi sesaji ruwatan. Sesaji ruwatan yang bermacam-macam itu bermaksud baik, diantaranya :

- Panembah dan ungkapan terimakasih kepada Gusti, Tuhan Sang Pencipta.
- Permohonan kepada Tuhan supaya upacara dan tujuannya yang mulia mendapat berkah dan perlindungan Tuhan.
- Mendapatkan restu para pinisepuh.
- Berisi petuah-petuah bijak untuk menjalani hidup ini dengan baik dan benar.
- Supaya tidak ada gangguan berupa apapun dari mahluk yang kelihatan dan "tidak kelihatan".

Itulah daya atau enerji yang diharapkan dari serangkaian sesaji yang komplit, yang dirangkai dari berbagai hasil bumi, yang sudah sejak zaman kuno merupakan tradisi.

Jadi esensi sesaji adalah sebuah harapan, sebuah doa terbaik. Selain itu harus disediakan air suci dari tujuh sumber mata air yang berbeda. Supaya tujuan ruwatan berjalan sebagaimana mestinya, upacara harus dilaksanakan secara runut, cermat dan benar.

Uborampe atau peralatan yang dipergunakan dalang dan sukerto.

- Sepotong kain putih yang disebut mori, panjang 3 meter dibagi dua, yang sebelah diduduki dalang, potongan lainnya diduduki sukerto.
- Diatas mori ditaburi bunga mawar, melati, gambir.
- Blencong, lampu untuk menerangi pagelaran wayang kulit murwakala, digantungkan diatas dalang. Memakai bahan bakar minyak kelapa, bukan dari penerangan listrik.
- Pakaian para sukerto pada waktu upacara, sesudah selesai upacara diberikan kepada Ki Dalang.
- Disediakan nasi kuning dicampur uang logam, nantinya disebar oleh dalang.
- Pengaron baru, tempat air terbuat dari tanah liat yang diisi air dari tujuh sumber dicampur dengan kembang setaman dari mawar, melati, kenanga dan dua buah telor ayam.
- Gayung yang dipakai untuk memandikan sukerto terbuat dari buah kelapa dibagi dua, daging kelapanya tidak dibuang.

Selain Ki Dalang yang telah menyiapkan diri lahir batin, para sukerto dan orang tuanya diwajibkan menghayati ruwatan yang berjalan. Ki Dalang, para sukerto dan orang tuanya berpakaian tradisional. Sebelum upacara para sukerto mohon restu dari orang tuanya. Semua pihak yang terlibat memohon berkah Tuhan, karena hanya dengan palilah-NYA segalanya akan berjalan lancar dan baik.